Pengembangan Kurikulum

Pengembangan Kurikulum dan Teori Belajar

Oleh : A. Sulaiman, M.Ag.

Satu kemestian bahwa kurikulum harus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman di samping harus mampu menjawab kebutuhan zaman. Kurikulum memiliki empat dimensi pengertian, dimana satu dimensi dengan dimensi lainnya saling berhubungan. Dimensi tersebut adalah 1. Kurikulum sebagai suatu ide, 2) Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, yang merupakan perwujudan dari ide, 3) kurikulum sebagai suatu kegiatan (pelaksanaan kurikulum sebagai suatu rencana tertulis), dan 4) kurikulum sebagai suatu hasil yag merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan (Rudi Susilana. Dkk, 2002 : 2-3). Dalam konteks yang sederhana dipahami bahwa kurikulum adalah  seperangkat pengalaman yang diberikan kepada peserta didik dengan komponennya terdiri dari tujuan, materi, metode dan evaluasi, sementara pengembangan secara sederhana dapat dipahami sebagai satu kesatuan proses perencanaan, pelaksanaan, evaluasi (revisi).

Dalam konteks pengembangan kurikulum, baik dalam level makro maupun mikro, agar konstruk kurikulum memiliki ‘bangunan’ yang mantap,  jelas tujuannya, relevan isinya, serta efisien dan efektif cara-cara pelaksanaannya hanya apabila dilaksanakan dengan mengacu kepada suatu landasan yang kokoh. Sebab itu, sebelum melaksanakan pengembangan kurikulum terlebih dahulu memperkokoh landasannya. Landasan-landasan tersebut pada hakikatnya adalah factor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan oleh para pengembang kurikulum pada saat mengembangkan suatu kurikulum.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:633), istilah landasan diartikan sebagai alas, dasar atau tumpuan. Adapun istilah landasan sebagai dasar dikenal pula sebagai pondasi. Mengacu kepada pengertian tersebut, kita dapat memahami bahwa landasan adalah suatu alas atau dasar pijakan dari sesuatu hal; suatu titik tumpu atau titik tolak dari sesuatu hal; atau suatu fundasi tempat berdirinya sesuatu hal.

Berkaitan dengan dengan landasan kurikulum, Robert Zais (1976) mengemukakan empat landasan kurikulum, yaitu philosophy and the nature of knowledge, society and culture, the individual, dan learning teory. Dengan berpedoman pada empat landasan tersbeut, dibuat model Eklektik Model Kurikulum sebagai berikut.

Graphic1

Gambar Model Eklektik Pengenbangan Kurikulum

Dalam gambar tersebut, terdapat unsur social budaya yang di dalamnya terdapat Pemerintah serta lingkungan dan budaya masyarakat. Unsur lainnya adalah teori-teori belajar (learning teories). Sehingga pasti dalam pengembangan kurikulum aspek tersebut (pemerintah dan teori belajar) menjadi hal yang dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum di suatu daerah.

Dalam keterkaitan dengan teori belajar, ada beberapa teori yang harus dijadikan landasan dalam pengembangan kurikulum, diantaranya adalah behaviorisme dan konstruktivisme.

Teori behaviorisme lebih menekankan pada tingkah laku manusia, memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Menurut teori ini, belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Ciri teori ini mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peran lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Prinsip teori ini adalah, 1) objek psikologi adalah tingkah laku, 2) semua bentuk tingkah laku dikembalikan pada reflek, 3) mementingkan pembentukan kebiasaan.

Dalam sudut pandang teori ini, pemerintah membuat rumusan-rumusan kurikulum berupa regulasi yang detail tentang proses pembelajaran, baik pada aspek input, proses maupun output pembelajaran.

Sementara Teori konstruktivisme menyatakan bahwa peserta didik harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisi aturan-aturan itu apabila tidak lagi sesuai. Teori ini lebih menekankan proses daripada hasil. Terdapat tiga penekanan dalam teori ini, 1) peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna, 2) pentingnya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna, dan 3) mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima (Tasker, 1992 : 30).

Dalam sudut pandang teori ini, pemerintah membuat rumusan-rumusan kurikulum berupa regulasi yang bersifat umum atau global yang dapat dikembangkan oleh pelaksana kurikulum baik pada aspek input, proses, maupun output pembelajaran. (***)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>